Selasa, 04 November 2014

Sang Penunggu Lift

Menurut moms, setelah memiliki anak, apa yang ribet? For me, semuanya menjadi ribet. Sejak memiliki anak, tidak ada yang namanya bisa makan tenang, mandi tenang, jalan-jalan tenang. Wkwkwkw...

Ketika jalan-jalan di mall, dengan dua buntut, saya sering membawa stroller, paling tidak untuk menaruh barang-barang atau ketika anak capai ingin beristirahat. Jika membawa stroller, satu hal yang bikin ribet adalah ketika harus naik turun lantai. Menggunakan eskalator ketika sedang mendorong anak dalam stroller adalah hal yang berbahaya, hal ini terlihat pada sticker-sticker yang tertempel di eskalator. Jika kita membawa stroller bayi ataupun kursi roda dianjurkan untuk menggunakan lift. Semua demi keamanan. Jika saya hanya menggendong anak tanpa membawa stroller saya lebih suka menggunakan eskalator, karena tidak suka berhimpitan dengan banyak orang dalam satu ruangan yang sempit.

Sebenarnya sudah lama saya memendam hal ini, akhirnya hari ini saya menuliskannya juga. 

Seringkali ketika sedang main di mall harus menuju beberapa lantai yang berbeda. Ketika pintu lift terbuka, saya sambil mendorong anak dalam stroller ingin masuk, tetapi akhirnya tertahan karena banyak sekali orang-orang yang begitu individualis, berebutan untuk menggunakan lift (bahkan ketika saya perhatikan tidak ada yang membawa anak, ataupun bersama orang tua). Akhirnya seringkali juga saya mengalah sambil diam menatap mereka. Pengennya sih biar mereka menangkap maksud tatapan saya. Wkkkk... Mereka yang kebanyakan para kaum muda tidak menghiraukan seorang ibu yang mendorong  stroller dengan anak di dalamnya dan satu anak dalam gendongan pengasuh, yang mau tidak mau harus menggunakan lift karena beberapa eskalator dipalang dilarang untuk dilewati. Akhirnya kami harus tetap menunggu hingga lift berikutnya tiba. Cukup dongkol memang. 

Saya kembali membayangkan orang-orang yang rasa pedulinya minim ini. Apakah ini contoh anak muda zaman sekarang. Saya tidak pernah tahu alasan mengapa mereka yang menerobos masuk ke dalam lift begitu terburu-buru. Bahkan hanya naik atau turun satu lantai. Atau tidak mau bergeser ketika kami harus mendorong stroller keluar dari lift. Membuat kepala kembali bergeleng-geleng. 

Untungnya hari ada dewa penyelamat ketika saya ingin turun dari lantai 4 menuju lantai dasar. Hari ini (4/11) dewa penyelamat saya bernama Mas Reza, beliau adalah Penunggu Lift di Central Park. Bisa dibilang demikian. Tadi Richard tiba-tiba tidak enak badan dan merengek ingin pulang, akhirnya makanan yang kami pesan di take away dan kami langsung menuju lift untuk turun, karena mobil parkir di bawah. Lagi-lagi ketika lift terbuka, orang-orang muda berebutan masuk ke dalam lift. Saya menahan diri untuk masuk kedalam karena sudah banyak orang yang berada di dalam lift, Tetapi Mas Reza hari ini dengan tegas mempersilakan kami ibu dan anak masuk dan mengatur orang-orang di dalamnya untuk bergeser. Dan kamipun masuk menuju lantai dasar. Tanpa harus menunggu lebih lama lagi.

Mas Reza, Sang Penunggu Lift, posisi yang disadari dan tidak disadari. Tetapi sangat membantu bagi saya yang ribet dengan anak tentunya. Beliau adalah petugas yang mempersilahkan orang masuk dan keluar dan menekan tombol lantai di lift. Beberapa mall memposisikan Penunggu Lift, dan saya rasa karena berbagai alasan, keamanan dan kenyamanan. Tapi saya sangat terbantu dengan hadirnya mereka. 

Artikel ini saya tulis sebagai sentilan kepada orang-orang muda yang pernah saya temui di pintu lift dimana ketika saya sedang membawa stroller bersama anak, dan mereka tetap masuk tanpa peduli ataupun mempersilahkan orang dengan stroller baby ataupun kursi roda masuk terlebih dahulu. 

Dan saya mempersembahkan artikel ini juga sebagai bentuk apresiasi saya bagi para Penunggu Lift. Terima kasih Mas Reza dan Reza-reza lainnya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

When Everything Happens for a Reason

Menurut teman-teman, apa makna quotes tersebut? sedikit klise? yah.. mungkin saja. Seiring usia saya yang semakin bertambah tua, saya mulai menyadari apa yang dimaksud dengan kata mutiara ini.

Everything happens for a reason, jika diartikan secara sederhana, artinya Semua terjadi untuk alasan tertentu.

Jika menelaah kembali hidup saya, saya suka senyum-senyum sendiri mengingat apa yang pernah terjadi dalam hidup ini, betapa beberapa kali saya belajar bagaimana keputusan-keputusan baik yang sepele maupun yang penting saya ambil, bagaimana proses yang terjadi dalam hidup saya baik yang buruk dan yang baik yang ternyata ada hikmahnya tanpa kita sadari dan bahkan mungkin berefek panjang tanpa kita sadari.

Lahir di kota kecil, dan masa-masa sekolah dilalui, masa-masa pemberontakan sebagai seorang remaja juga dijabanin (baru sadar, papa mama saya begitu sabar dan mengasihi kami semua). Ketika kuliah, ikut-ikutan ke Bandung, ternyata saya bertemu beberapa komunitas yang membuat saya secara pribadi berkembang, untuk urusan kuliah untuk nilai cukup bagus tetapi bisa dibilang apa yang dipelajari ketika kuliah saat ini sudah terlupakan. Lulus kuliah berpikir untuk langsung bekerja, tetapi dianjurkan ke China oleh papa. Pada saat itu sebenarnya saya ingin langsung bekerja. Hanya saja Papa kekeuh saya harus ke sana, akhirnya ikut ke negeri Panda. Sesampainya disana, saya sempat menangis, karena tidak yakin bahwa saya akan menyukai lingkungan disana dan makanan berminyaknya.

Ternyata setelah menjalaninya selama 1,5 tahun disana, saya menyukai tinggal disana begitu juga makanannya. Haha... sempat kepikiran untuk mencari pengalaman kerja di sana tetapi karena merindukan kampung halaman. Akhirnya saya pulang. Ada satu kebetulan yang lucu, ketika saat baru pulang dan mencari pekerjaan, saya bertemu dengan teman SMA di sebuah pusat perbelanjaan (such a coincidence, saya yang saat itu tinggal di karawaci, belanja di hypermarket di Puri, dan bertemu di satu lorong - kalau mau dipikir-pikir betapa kecil peluang tersebut dapat terjadi kan?). Cerita punya cerita, bahwa status saya sedang mencari kerja, teman saya memberitahu bahwa ada temannya yang sedang mencari untuk posisi marketing yang membutuhkan bahasa China. Saya melamar dan kemudian diterima. Masa kerja yang tidak begitu lama, tapi juga merupakan masa-masa yang pastinya saya kenang karena rekan-rekan kerja yang pada gelok. Ternyata ilmu ini kemudian dapat saya terapkan dalam usaha suami saya saat ini. -- everything happens for a reason.

Sempat menjadi guru juga pengalaman tersendiri yang menyenangkan. Membuka mata saya ketika saat ini saya adalah seorang orang tua. Bagaimana menilai sekolah yang cukup baik untuk anak-anak saya. Bagaimana saya tertarik akan hal yang berbau pendidikan dan perkembangan anak. Bukan tidak mungkin jika suatu saat saya berkecimpung dalam dunia pendidikan. Maybe. Tetapi at least dari pengalaman tersebut saya bisa belajar bagaimana mendidik anak-anak. -- everything happens for a reason

Pertemuan kembali saya dengan suami saya (saat itu hanya teman biasa) juga tidak terlepas dari sebuah kebetulan yang manis (atau yang dinamakan jodoh). Saat itu hanya bertemu sesama teman lama, yang kebetulan satu apartemen, yang akhirnya berujung menjadi sebuah pernikahan. Lucu yah bagaimana waktu dan tempat serasa mempermainkan kita dan akhirnya menyatukan dua insan yang tadinya hanya teman lama biasa. Dapat memiliki dua keturunan yang mengajarkan tentang arti kehidupan seutuhnya. -- everything happens for a reason

Networking. Percaya atau tidak, itu bisa siapa saja. Bisa jadi teman semasa kecil, semasa sekolah, semasa kuliah, semasa kerja, atau siapapun yang pernah ada dalam hidup kita. Saya bisa bekerja dalam perusahaan tertentu atau expand usaha juga berkat teman-teman yang memperkenalkan. Sungguh karma baik bisa berteman dengan teman yang bisa membuat kita berkembang ke arah yang lebih baik. Bahkan orang-orang yang mungkin sehari-hari tidak kita anggap, ternyata bisa berpengaruh juga dalam hidup kita.

Apapun yang terjadi, semua itu hanya sementara. Tidak akan berhenti sampai disitu. Jangan pernah menyerah ketika cobaan datang mendera, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa akan datang. Jalani dengan sebaik-baiknya. Kita gagal ketika kita berhenti. Dan saya pun sedang berproses dalam hidup ini.

Everythings is temporary.
Every wiser has a past, every sinner has a future.

Be happy :)

























Minggu, 09 Maret 2014

Jangan Sampai Menyesal...

We are so busy growing up, we forget that they're also growing old. 

....................

Tadi malam salah satu teman sharing bagaimana kita bisa earn money and also spend money. Gimana caranya earn money tidak saya ceritakan disini, saya rasa teman-teman mengetahui lebih banyak. Nah, kalau spend money bagaimana? 

Lalu kemudian dia menceritakan bahwa dia lebih menghabiskan uangnya untuk memberdayakan orang lain, membuka lapangan kerja dibandingkan memberi sumbangan. Make sense. Kemudian lagi dia menceritakan bahwa cara spend money yang membuat hati bahagia adalah dengan membahagiakan orang tua, misalnya dengan membawa orang tua jalan-jalan dengan fasilitas yang nyaman tentunya (kalau memang kita mampu). 

Dia mengatakan bahwa dimana-mana orang tua pasti berusaha menghemat, apalagi misalnya yang membiayai adalah anak-anaknya.  Kalo tinggal di hotel, bilangnya "Jangan boros, toh cuman buat tidur, dimana saja samalah, makan yang biasa-biasa saja, toh keluarnya juga sama (haha)". Tapi sesungguhnya "Yi fen qian, yi fen huo- Ada harga ada barang". Kenyamanan, kualitas dan servis yang kita dapatkan berbeda.  Sampai sejauh ini dari yang saya kenal, tidak ada orang tua yang terang-terangan meminta fasilitas mewah. Begitupun orang tuaku dan mertua.

Yang lebih parah adalah konsep pemikiran orang tua yang mencari duit untuk anak. Jadi hidup sehemat-hematnya, makan hemat, apa-apa hemat, sekolahin anak ke luar negeri, ntar anak pulang dimodalin usaha, semua aset diberikan untuk anaknya. Sendiri tetap hemat. Hahaha...  Kalau anaknya berbakti itu nilai plus. Tapi apabila tidak berbakti, wah mau bagaimana? Kebanyakan nonton drama Singapore saya...wkwkwkw. Jadi kita yang jadi orang tua, pintar-pintar juga saving buat masa tua. Jangan semua melulu untuk anak.

Bagi yang sudah memiliki keluarga sendiri atau karir sendiri mungkin sering merasa bahwa apa yang kita miliki saat ini itu penting banget... "Gila! yang gw kerjakan ini prioritas nomor satulah, pasangan nomor satu, anak yang didahulukan, atau kalau pulang berkunjung berapa hari mikirin harus cuti,  ntar gaji dipotong." wkwkw. Demikian juga kadang diriku. Orang tuaku tinggal di kampung halaman sedangkan saya dan suami sekeluarga berdomisili di Jakarta. Mertua juga tinggal di kampung halaman. Jadi kira-kira 2 atau 3 bulan sekali mereka datang berkunjung. Dulu ketika anak baru satu dan belum bersekolah, dalam setahun bisa pulang berkunjung 3 kali. Tetapi saat ini saya sulit berkunjung ke kampung halaman karena Richard sudah bersekolah ditambah satu buntut lagi, Audrey-- kebayang donk kalo pulang rempongnya minta ampun. again.. another excuses.

Saya salut dengan pasangan suami istri yang juga sahabat kami, apabila orang tuanya ulang tahun, mereka ataupun salah satu dari mereka pulang merayakan bersama. Ingin rasanya misalnya pada hari ulang tahun orang tua, pulang ke rumah untuk merayakan bertambahnya usia mereka. Tapi ada-ada saja alasannya yang akhirnya berujung hanya pada ucapan Selamat Ulang Tahun lewat telepon dan kado yang menyusul. Sigh.

Aku pernah bertanya tentang impian Mama jauh sebelum saya menikah. Mama tidak meminta materi apapun, hanya mengatakan. " Yah, kalau bisa kita satu keluarga bersama cucu-cucu jalan-jalan bersama kemana gitu...,". Sampai sekarang belum terwujud. Hehehe... Saya rasa semua orang tua berkeinginan seperti itu. Nenek dari suami juga demikian, ingin berkumpul lengkap dengan semua anggota keluarga. Tapi setelah dikalkulasikan bisa 60 orang lebih. Yang paling memungkinkan adalah naik kapal pesiar bareng dan butuh EOnya. Haha..

Suami juga pernah bercerita bahwa salah satu customernya menyarankan, kalau ada waktu, ajaklah orang tua jalan-jalan. Jangan sampai menyesal seperti dirinya. Diceritakan bahwa dulu ayah customernya menginginkan untuk jalan-jalan ke kampung halamannya di China. Anaknya mengiyakan dan berpikiran harus mengumpulkan uang, usaha berjalan sukses, tapi yang namanya buka toko- pikirannya mungkin-- kalau toko tutup tidak ada income. Perjalanan tertunda... hingga sang Ayah meninggal. Menyesal memang datangnya belakangan.

Kita terlalu sibuk (menjadi dewasa, mencari uang, memanjakan pasangan, merawat anak) sehingga kita lupa bahwa orang tua juga terus menjadi tua. Jika kulihat kulit papa yang semakin keriput, rambut, alis yang memutih, hati terasa sesak. Melihat guratan-guratan halus pada wajah mama dan tubuh yang semakin menciut, aku takut waktu kebersamaan kami semakin sedikit. :(

Teman yang salah satu orang tuanya atau bahkan keduanya telah tiada, mungkin merindukan orang tuanya. Yang bisa dilakukan hanya pelimpahan jasa dan berdoa. Yah memang itu. Tapi bagi kita yang orang tuanya masih ada, apa yang bisa kita lakukan?

Mungkin bagi kita yang tinggal berjauhan dengan orang tua. Luangkan waktu untuk sesaat menelepon ataupun mengunjungi orang tua kita. Saya rasa orang tua jarang menelepon kita bukan berarti tidak ingin mengobrol dengan kita, tetapi mungkin karena takut mengganggu apabila kita lagi sibuk, jarang berkunjung, mungkin berpikir akan merepotkan kita... hehehe... 

Bagi yang masih tinggal serumah dengan orang tua. Renungkan, kapan kita benar-benar duduk bersama orang tua dan mendengar, ngobrol panjang lebar di sela-sela hari-hari kita yang sibuk. :) (kaya iklan Sariwangi -- Luangkan 15 menit untuk keluarga)..wkwkw....

Or mungkin melakukan perjalanan bersama-sama....

It's up to you....

_________________________________________________________________

Dalam Buddhisme, dikatakan dalam Kitab Sutra Bakti Seorang Anak, "Di antara Semua Dharma yang begitu banyak, Kebaikan Orang Tua adalah yang paling Besar, Sesungguhnya ada dua orang Buddha di setiap keluarga; yakni Ayah dan Ibu. Sayang sekali kebanyakan orang tidak menyadarinya, tidak perlu dihiasi sengan emas dan warna-warni, tidak perlu diukir dengan cendana. Lihat sajalah Ayah dan Ibumu sekarang. Mereka adalah Sakyamuni dan Maitreya. Kalau Engkau dapat memeberikan persembahan kepada mereka, tidak perlu lagi melakukan Jasa dan kebajikan lain." The kindness of Parents and the Difficulty in Repaying It (Filial Piety Sutra)


Kematian itu pasti, hanya saja datangnya tidak pasti.....

Jangan sampai orang tua sudah tiada baru kita menyesal.


ps. thanks for Serpong'ers for the inspiration.


Rabu, 12 Februari 2014

Happily Ever After?

Saat kepulangan saya ke kampung halaman saat imlek kemarin, saya menemukan album kenangan saat saya SMP, disana tertulis impian dan cita-cita saya: Bukan seorang dokter, pilot ataupun business woman, melainkan menjadi Mrs...   and live happily ever after (-karena biasa dalam film dongeng anak-anak, or drama komedi romantik ataupun novel-novel cinta sering ada kata-kata:...and they lived happily ever after, the end.) Happily Ever After dalam bahasa Perancis: Ils se marièrent et eurent beaucoup d'enfants (terjemahannya: They married and had many children - menikah dan memiliki banyak anak). Nah loh! Dulunya dalam pemikiran saya yah bener-bener happy ever after. Terdengar naif? Kalau dulu saya menjawab itulah impian saya. Apa jawaban saya saat ini?

Ternyata pernikahan adalah sebuah realita. Berkeluarga dan memiliki anak membuka mata kita - Butuh perjuangan. Hahaha... Perkawinan dan kesulitan sukar dipisahkan, dan begitu kita menikah, kita akan segera menghadapi persoalan dan tanggung jawab yang tidak pernah kita bayangkan dan hadapi sebelumnya. Dengan memiliki pasangan hidup dan keluarga semua menjadi keputusan bersama, berkolaborasi dengan pasangan hidup mulai dari mengatur urusan rumah tangga, merawat dan mendidik anak, mempersiapkan masa depan hingga bagaimana bersama-sama menghadapi sebuah masalah yang pastinya selalu ada dalam hidup manusia. Ternyata istilah "happily ever after" masih bersambung.... "to be continued..." Haha!

Terlebih lagi apabilah sudah menikah, realita pernikahan itu bukan hanya di antara dua insan. Jadi yang istilahnya "Aku dan Kau" harus dikoreksi menjadi Aku, Kau, dan Semuanya. Semuanya siapa? Semuanya adalah dua keluarga besar yang menjadi satu juga dan juga semua yang berada dalam lingkungan kehidupan kita. Banyak tipe keluarga, ada yang konvensional, ada yang demokratis. Apabila kebetulan pasangan tersebut berlatar belakang yang berbeda. Pintar-pintarlah pasutri tersebut memadukannya dan menumbuhkan rasa memaklumi antar keluarga. Apabila tidak ada yang mau mengalah, ya fatal akibatnya.

Menjelang pernikahan anak-anaknya, orang tua biasanya memberikan wejangan: "Pesta hanyalah sebuah perayaan baik itu acara sederhana ataupun mewah, yang penting kalian berdua (pasangan yang akan menikah) ke depannya menjalani pernikahan dengan baik dan saling pengertian. " -- kira-kira begitu intinya. Setelah saya renungkan, mungkin orang tua juga sudah melewati masa-masa up and down dalam pernikahannya. Jadi nasihatnya ngena banget.

Menurut Anda pernikahan yang berhasil dan bahagia itu seperti apa? Salah satu teman saya mengatakan, Pernikahan yang berhasil dan bahagia adalah ketika kita menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelum menikah. Secara tidak langsung semuanya berjalan dengan lebih baik juga. Ini bukan hal yang mudah lho, karena ada kecenderungan setelah berkeluarga: high expectation, harapan yang tinggi terhadap pasangan malah "mencengkram" pasangan untuk berkembang ke arah (yang mungkin lebih baik), dan apabila harapan tidak terpenuhi biasanya kita bisa kecewa ataupun marah kepada pasangan kita yang kemudian menumbuhkan bibit-bibit buruk dalam pernikahan.  
Dr. K. Sri Dhammananda dalam bukunya yang berjudul "Perkawinan yang Bahagia" menuliskan, "Perkawinan adalah persekutuan antara dua individu, yang diperkaya dan ditinggikan jika perkawinan itu membolehkan kepribadian yang bersangkutan tumbuh. Banyak perkawinan hancur berantakan saat sekutu yang satu mencoba 'menelan' sekutu yang lain, ataupun saat satu pihak menuntut kebebasan penuh. Menurut Ajaran Buddha, perkawinan berarti memahami dan menghargai keyakinan dan keleluasaan satu sama lain. Perkawinan yang berhasil selalu merupakan jalan berjalur dua: suka-duka , sukar namun selaras. KESABARAN, TOLERANSI dan SALING PENGERTIAN adalah disiplin yang penting untuk diikuti dan dipraktekkan oleh semua orang dalam perkawinannya. Rasa aman dan puas datang dari saling pengertian yang merupakan KUNCI menuju PERKAWINAN YANG BAHAGIA."

So teman-teman yang sudah berkeluarga, Mari kita sama-sama berlatih kesabaran, toleransi dan saling pengertian terhadap pasangan kita. :)

p.s for my hubby, "Terima kasih untuk selalu sabar terhadapku. Kita sama-sama berjuang demi keluarga yah, Yang"

quote by me:

Life is simple but we insist to make it complicated. (cari masalah dengan menikah?wkwkwkw)

Being alone doesn't mean you're lonely. (untuk teman-teman yang memilih untuk tidak menikah)



Kamis, 02 Januari 2014

Richard : "Asyiiikkkk...Mau ke Dokter Gigi!"

Bingung baca judulnya? Wkwkwkw... Saya juga bingung... se-happy itukah ke Dokter Gigi?

Bagi saya, kunjungan ke dokter gigi adalah mimpi buruk. Sampai setua ini, urusan gigi tetap membuat jantung ketar-ketir tak karuan. Masih teringat sewaktu kecil bersama adikku ke dokter gigi, begitu memasuki kliniknya, warna putih dimana-mana keramik putih, dinding putih hingga gorden putih. Samar-samar tercium bau ruangan yang khas dan terdengar bunyi bor yang melengking. Ngiiiiiingggggg..... Apalagi kalau sayup-sayup terdengar suara erangan kesakitan. Mau kabur tak bisa, gigi sedang sakit.  Saat giliran tiba, aku dan adik saling mendorong siapa yang duluan, kemudian masuk dan duduk di kursi pasien, pasrah.

Kesadaran untuk merawat gigi ketika saya kecil kayanya masih kurang, alhasil gigi tidak rata dan sering bermasalah. Mungkin pemikiran orang tua saat itu bahwa gigi susu rusak-ya rusak, tidak perlu dirawat. Toh akan berganti gigi asli. Sejak SD tidak terhitung uang yang dikeluarkan papa untuk biaya perawatan gigi. Sampai saat ini sering sirik kalo ngeliat gigi teman-teman yang rapi. Oleh sebab itu, untuk urusan gigi anak, sedapat mungkin jangan sampe deh giginya seperti mamanya.

Niat boleh begitu, tapi kenyataan berkata lain. Hahaha.... Karena sering tidur sambil menyusui, gigi Richard juga tidak terbilang bagus. Karies di gigi susu depan bagian atas. Padahal sudah diwanti-wanti mertua untuk merawat gigi cucunya..kkkkk. Beruntung ada satu teman semasa SMA mengambil spesialis gigi anak dan membuka klinik gigi khusus anak-anak di Jakarta yang letaknya tidak jauh dari rumah. Nama kliniknya Kidz Dental Care & Orthodontic Clinic. Dari judulnya sih sudah kebaca, Spesialis anak. Coba-coba saya bawa Richard kesana. Ternyata berkunjung ke dokter gigi menjadi hal yang menyenangkan buat Richard :)

Pertama kali ke klinik yang terletak di kawasan Puri tersebut Richard disambut nuansa yang nyaman dan colorful buat anak-anak. Saat itu hanya ada 1 ruang tunggu dan 2 ruang praktek. Susternya ramah dan Richard langsung kerasan bermain di ruang tunggu. Tidak lama Drg. Olivia (saya biasa memanggilnya Uwik) keluar dari ruang praktek dan berkenalan dengan Richard. Selalu senang rasanya bertemu dengan teman lama, apalagi satu kampung, teman sekelas dan duduk bersebelahan.  Saling bertanya kabar teranyar kamipun masuk ruang praktek. 

Ruang prakteknya nyaman, di dindingnya ada gambar binatang yang lucu-lucu dan berwarna warni, tidak seperti ruang praktek ketika saya kecil dulu yang seperti latar film SAW :p. Kedatangan pertama saya hanya mengajak untuk sekedar pengenalan dan konsultasi untuk perkembangan gigi Richard sekalian pengenalan agar Richard tidak takut apabila harus ada tindakan. Bercengkrama dengan dokter dan suster kemudian naik ke atas kursi, Drg Olivia memperkenalkan alat-alat yang mungkin akan digunakan di kemudian hari. Untuk konsultasi perdana, Richard melaluinya dengan baik.


Ketika gigi atas depan Richard bertambah parah, saatnya tindakan. Menambal. Wakssss...(Saat itu usianya hampir 3 tahun). Saya sudah deg-deg-an, apa Richard mau duduk diam di kursi pasien?. Sebelum ke klinik saya putar berkali-kali video anak yang berkunjung  ke dr gigi dan yang pasti anak tersebut masih tetap terlihat ceria. Youtube berperan besar memperkenalkan Richard mengenai kunjungan ke dokter gigi. Hehehe..

Emang Dokter Spesialis Anak kali ya... memang sudah terlatih dalam menghadapi anak-anak :). Sabar menghadapi Richard yang kegelian dan yang belum terbiasa duduk diam. Tidak ada adegan meraung-raung saat tindakan, Richard mengikuti arahan Dokter untuk menganga dan berkumur-kumur sambil menonton film Angry Bird kesukaannya yang waktu itu saya bawa sendiri - jaga-jaga kalau tidak ada film yang dia sukai yang disediakan klinik. Ternyata di klinik banyak pilihan film yang bisa diputar. Hehehe..
Silau, makanya pake Sunglasses (nyontoh youtube)
Mengenali seluk beluk di klinik
sakit sedikit gapapa yah Ko... (20120522)





Pemeriksaan gigi dan penambalan berlangsung lancar. Gigi Richard menjadi bagus. Magic. Hahaha.. Kalo orang-orang liat pasti bilangnya mamanya rajin nyikatin giginya, padahal hasil kerja Uwik alias Drg. Olivia. Kkkkk...

Lama tidak memeriksakan giginya, mendekati akhir tahun 2013, Richard memeriksakan giginya kembali sekaligus membersihkan karang giginya. Awalnya saya bingung kog ada anak-anak yang keluar masuk ruang di belakang, ternyata ruangannya diperluas dan semakin nyaman. Dua ruang praktek baru (tidak saya foto, bisa lihat di blogspot www.kidzdentalcare.blogspot.com) dan satu ruang tunggu baru yang nyaman juga. Total menjadi 4 ruang praktek yang temanya berbeda-beda dan 2 ruang tunggu.

ruang tunggu yang sejak awal sudah ada

ruang tunggu baru 

ada aquariumnya - Richard paling senang melihat ikan.
ga usah takut bosan menunggu, ada creative area bisa mewarnai dan puzzle words
Santai saja....wkwkwk.... (picture taken today)
Pulang-pulang ga tangan kosong, ada pilihan hadiah karena sudah berani memeriksakan giginya (paling happy Richard kalo dapat hadiah) :)
Emang Asyik ke Dokter Gigi! hehe...
Biarpun gigi mami mencang-mencong, gigi Koko jangan yah...

Thanks Dokter-dokter yang cantik yang sudah menghilangkan ketakutan saya membawa anak ke dokter gigi. :)



Tips dari saya kalau mau ngajakin anak ke Dokter Gigi:

1. Search : Cari Klinik yang nyaman untuk anak-anak (untuk di Jakarta, Kidzdentalcare recommended dehhh)
2. Intro : Sebelum memeriksakan diri boleh putar youtube (search for kids dental visit) tentang kunjungan anak ke dokter gigi yang berakhir dengan ceria -- jangan yang malah nangis yahhh... :)
3. Introducing : Perkenalkan anak sejak dini mengenai kunjungan ke dokter gigi - agar tidak takut ketika harus mengambil tindakan. Mungkin pertemuan pertama kenalan dan main-main dulu.
4.  Encouragement: Saya biasa selalu memuji Richard setiap selesai kunjungan. Hihihi...

last but not least, yang pasti harus rajin merawat gigi.  Biar senyumnya cemerlang. :)

Kalo mau tau info seputar klinik ini bisa klik: www.kidzdentalcare.blogspot.com


Senin, 11 November 2013

Tuluskah?

Sudahkah saya berbuat baik hari ini? Jawabannya hingga pukul 10 lewat 12 menit ini... Belum. Yang ada hanya rutinitas sehari-hari dan pikiran yang berjalan-jalan. Sudahkah saya berbuat baik akhir-akhir ini? Mikir lagi.... berpikir keras..... Yah, sepertinya ada. Tuluskah?....emmmmm....mikir lagi. Kata pemuka agama dan ajaran guru, kalau mau berbuat baik harus tulus. Bisakah saya tulus dalam berbuat baik?

Saya pernah memberikan tumpangan ke seorang tante (mungkin usia 60an) karena saya kasihan melihat dia berjalan dengan tongkat. Dalam mobil dia berkata bahwa sebenarnya dia masih bisa bekerja gosok dan menyapu. Saya hanya diam dan menyelipkan sedikit uang kepadanya ketika dia hendak turun. Pikir saya kasihan. Saat itu - tulus. Mungkin hanya sekali ini berjumpa dengannya.

Sejak Richard sekolah pagi, saya sering belanja sekitar sekolahnya dan ternyata tante ini sering ada di pasar itu juga setelah beribadah pagi. Kala itu, saya memberikan  sedikit bantuan, saya pikir kasihan, seorang diri tidak menikah, berjalan begitu jauh. Saya antarkan juga sampai di rumahnya. Masih tulus ingin membantu.

Hingga suatu ketika ketika saya sedang menunggu antrian tukang jamu di pasar, tante menghampiri saya. Saya tawarkan untuk minum jamu, tante menjawab "ga mau jamu, mau goban aja" - kala itu saya sedang membuka dompet untuk membayar jamu, dan memang ada uang lima puluh ribu terselip di dompet saya. Saya sempat terkejut saat tante berkata demikian, dalam diam saya tarik lembaran itu dan memberikan kepadanya. Dan tante itu pun berlalu. Tukang jamu sampai tertawa dan nyeletuk " ga mau jamu, mau goban saja yah Ci..". Tuluskah saya saat itu? mulai mikir.....

Hari berganti hari, sering kami berpas-pasan di pasar, saat minum jamu, tante datang menghampiri, atau ketika berbelanja tante menunggu dalam diam. Saat masih ada uang sisa belanja, saya berikan, tapi ketulusan telah memudar. Minggu lalu, kaca mobil saya sempat diketuk, saya tidak berkata apa-apa dan hanya pamit mau pulang. Dia hanya tersenyum. Kemarin tante ini yang menghampiri saya, dan menunggu dalam diam. Menyadari diri saya tidak lagi tulus dalam memberi, saya mengurangi jumlah yang saya berikan. Berharap agar tante tidak lagi seperti ini.Tukang sayur langganan nyeletuk, "Dah jadi kebiasaan atuh Ci..." 

Berapapun yang saya beri, bahkan ketika saya juga tidak memberi, tante tetap tersenyum. Ada sedikit perasaan bersalah ketika saya naik mobil, dan membiarkannya berjalan. Tetapi ada perasaan yang mengganjal ketika setiap ke pasar dan bertemu dan disapa olehnya, rasanya sapaan itu penuh makna. Membuat saya dag-dig-dug. Hahaha. 

Dalam hati saya ingin membantu, tapi ketika membuat diri seseorang menjadi 'greedy' saya rasa itu bukan hal yang baik. Atau saya yang sudah tidak tulus - hingga mencari celah sisi negatif dari tante? Maafkan saya Tante.

Hingga hari ini saya belum berani mengatakan isi hati. Haruskan saya berterus terang agar tante tidak lagi berharap seperti ini? Menghindari bukan hal yang baik. Saya menyadari yang muncul malah perasaan buruk akan diri sendiri. Tidak seharusnya begitu kan ketika kita ingin berbuat baik? Harusnya perasaan ringan yang muncul, harusnya perasaan baik yang muncul.

Dua kali saya menyadari, niat baik saya ternyata berakhir tidak tulus. Bermaksud menjadi membantu ternyata malah berakhir tidak baik. Mengamati pikiran sendiri ternyata begitu bias. Menulis akan hal ini, adalah bentuk instropeksi diri. Memberikan bantuan jangan perhitungan, kalo sudah perhitungan lebih baik jangan memberi dulu, karena tidak tulus. Hahaha.... Makin ngaco nih....

_________________________________________________________________________________
Sedikit sharing dari teman, dalam Buddhisme, ada istilah pelimpahan jasa, jadi ketika saat kita berbuat baik, kita bisa melimpahkannya kepada orang-orang yang kita cintai. Caranya? ketika saat kita melakukan satu perbuatan baik, kita bayangkan secercah sinar putih masuk ke dalam tubuh orang yang kita sayangi sembari berdoa di dalam hati. Terbukti berhasil atau tidak? mungkin sama halnya dengan kita mendoakan orang yang kita sayangi. Apapun yang terjadi tidak terlepas dari karma masing-masing.

"terlepas apakah hal tersebut disengaja atau tidak disengaja, sekecil apapun juga keburukan yang dilakukan akan menghasilkan keburukan. Sekecil apapun juga kebaikan yang dilakukan akan menghasilkan kebaikan. Ini hukum alam yang tidak terbantahkan.", dikutip dari buku Enjoy dalam Dharma (semalam bersama lama Dharmavarja), Heru Suherman Lim dan Kelvin Islan, 2010.





Senin, 28 Oktober 2013

A Short Ride

Pada suatu saat, saya bertanya kepada teman-teman saya dalam komunitas. Bagaimana menjadikan hidup lebih berarti? Seketika berakhir pada kesimpulan yang menyatakan bahwa saat sedang jenuh-jenuhnya menjalani rutinitas sehari-hari. Kemudian ada teman yang bertanya, "Pernahkan kamu merasakan, setelah membantu orang perasaan kita menjadi lebih ringan?"...

Dulu ketika masih bekerja di Sentul saya sering menebeng mobil teman saya. Pernah sekali saya harus menunggu di turunan jalan layang depan Untar. Saya mengira-ngira jarak dari Apartemen Mediterania hingga kesana cukup dekat, jadi saya berpikir untuk jalan kaki saja sekalian olah raga pagi. Ternyata di tengah jalan baru merasakan bahwa jaraknya cukup jauh dah melelahkan. Hp berbunyi menandakan teman saya sudah hampir tiba, dan sebenarnya meeting point kami mobil tidak boleh berhenti jadi kemungkinan besar jika saya belum sampai, mungkin dia akan jalan terus. Ketika mencapai bawah jembatan layang depan CL, tanpa pikir panjang saya mencegat seorang bapak berbaju seragam tentara yang kebetulan naik motor, saya langsung nodong "Pak saya ikut yah". Langsung naik di boncengan belakang tanpa memakai helm. Bapaknya santai aja saya nebeng. :D Tiba di depan Untar, si Bapak berhenti dan saya turun. Saya mengucapkan "Terima kasih banyak, Pak". Si bapak tersenyum sambil melaju dengan motornya. Langsung saya buru-buru menyebrang ke meeting point dan pas teman saya baru saja tiba. Setelah tenang, dalam hati saya berkata. "Untung ada si Bapak". Hahaha.

Tinggal di Jakarta yang macet membuat setiap keluarga (terutama menengah ke atas) minimum harus memiliki 2 kendaraan (pendapat pribadi saya). Kendaraan apa saja, entah dua motor, dua mobil atau satu motor-satu mobil. Tidak percaya? Coba lirik tetangga kanan kiri kita. Walaupun ingin go green, kondisi juga yang memaksa di rumah menggunakan dua mobil. Suami satu untuk berangkat bekerja dan saya satu untuk mengantar-jemput anak sekolah atau keperluan sehari-hari. Saat ini kami sekeluarga tinggal di rumah yang bukan terletak di jalan utama. Butuh 3 menit dengan berkendara atau mungkin 15 menit dengan berjalan kaki dari jalan utama untuk sampai ke rumah. Ketika anak mulai sekolah, saya semakin sering bolak-balik untuk mengantar dan menjemputnya.

Saya masih ingat pelajaran moral yang pernah guru saya ajarkan ketika bangku sekolah, beliau mengatakan yang kira-kira seperti ini intinya, "Ketika kita berkendara, jika melihat orang yang sedang berjalan kaki, boleh kita menawarkan tumpangan apabila searah". Ya, kurang lebih seperti itu yang saya ingat.

Kira-kira 2 tahun yang lalu, ketika berkendara pulang ke rumah, saya melihat segerombolan biarawati yang sepertinya menunggu jemputan atau kendaraan umum. Teringat ajaran sang Guru, dan kebetulan saat itu di dalam mobil hanya saya, Richard dan mbaknya. Masih banyak kursi kosong, jadi saya berhenti dan menanyakan,

"Sus mau kemana?"
"Mau ke Green Garden", 
"Naik apa? "
"Ini nunggu taxi."
"Yuk, saya antar!"

Mereka berembuk sebentar, dan mungkin kelamaan menunggu taxi yang tak kunjung tiba, akhirnya suster-suster berdesak-desakan dalam mobil yang kukendarai. Sembari mengobrol dalam kendaraan, akhirnya tiba di Green Garden, dan mereka berterima kasih dan mengucapkan, "Tuhan memberkati". Itu pertama kali saya memberi tumpangan kepada orang yang tidak saya kenal sebelumnya. Perasaan ringan yang disebut-sebut temanku memang benar adanya, walaupun hanya sesaat.

Pernah suatu siang yang terik ketika melewati daerah Puri, saya melihat satu keluarga (salah satu ibunya menggunakan tongkat) yang berjalan perlahan di pengkolan PX Pavilion (saat ini Mc D) mengarah ke Puri Mall. Sepertinya mereka mencari taxi karena sebentar-sebentar melirik ke belakang. Saya menawarkan tumpangan dan mereka menerima tumpangan saya. Mereka mengatakan cukup sampai di Puri Mall dan dari situ mereka bisa lanjut dengan taxi. Dan ya memang sejauh itu saya mengantar mereka karena tujuan saya juga Puri Mall. Tidak ada hal spesial apapun yang terjadi ketika saya menawarkan tumpangan, obrolan hanya sebatas menanyakan tinggal dimana dan ucapan terima kasih. Itu sudah cukup. Perasaan menjadi ringan? Iya.

Hal ini mengalir hingga sekarang. Ketika melihat orang berjalan terutama orang tua, saya sering menawarkan tumpangan apabila searah. Banyak reaksi yang saya dapatkan. Ada yang langsung naik ke mobil, ada yang mikir dulu baru naik, ada yang menolak dengan halus atau dengan ekspresi yang tidak yakin terhadap tawaran saya. :) -Jangan-jangan modus kejahatan- (Mungkin begitu pikirnya). Pernah menawarkan tumpangan kepada bapak-bapak tua, ada yang dari dalam gang rumah hingga ke jalan raya, ada yang dari belakang Citraland ke halte busway. Biasanya bapak-bapak hayo waelah, naik tanpa berpikir panjang. Beda dengan ibu-ibu, biasanya yang mikirnya panjang dak tidak jarang berakhir dengan penolakan halus. Hahaha. Wajar saja sih. Tidak ada salahnya untuk berwaspada. Dulu ketika masih kuliah di Bandung dan sedang menunggu angkot bersama teman saya dekat Cipaganti, tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan dari balik jendela seorang pria menawarkan tumpangan. Tetapi karena maraknya pemberitaan kriminal saat itu, kami menolak dengan halus. So, no hurt feeling ketika saat ini ada yang menolak tawaran saya. 

Perasaan ringan yang dikatakan teman saya memang benar adanya. Menuliskan tentang hal ini, saya tidak bermaksud pamer atau apapun, karena yang saya lakukan hanya hal yang kecil - bantuan kecil karena kebetulan searah. Sejujurnya yang tidak ada alasan khusus saya menawarkan tumpangan, hanya membayangkan mungkin ada saat-saat dimana orang tua atau orang yang saya kasihi atau bahkan saya di suatu saat membutuhkan tumpangan, dan akan ada yang memberikan tumpangan (Seperti pengalaman saya sebelumnya). Kalau hujan apalagi, berjalan kaki, ada genangan air, mobil or motor lewat dengan kecepatan tinggi, alhasil basah seluruh badan. Saya pernah mengalaminya sekujur tubuh basah semua diciprat genangan air oleh kendaraan yang melaju cepat, padahal saat itu sedang terburu-buru. Dari pengalaman itu sedapat mungkin ketika hari hujan atau melewati daerah genangan air, saya berusaha menurunkan laju kendaraan.

Richard sepertinya juga sudah terbiasa jika mamanya tiba-tiba meminggirkan mobil dan menawarkan tumpangan pada orang tak dikenal. Saat menjelaskan kepadanya, saya hanya bilang kasihan Bapak/Ibu itu harus capek jalan di kala siang yang terik atau hujan. Enggak tau deh dia mengerti atau tidak. Menceritakan kepada suami, suami berpesan untuk berhati-hati. Jangan sampai membahayakan diri. Bisa dimengerti.

Ingin menjadikan hidup sedikit lebih berarti? Luangkan waktu untuk melihat ke sekeliling. Ladang berbuat baik ternyata bisa dimana saja. Bahkan di jalanan yang sehari-hari kita lewati. Barangkali ada kesempatan berbuat baik. Dan yang mungkin akan menjadikan hidup lebih berarti dengan cara yang tidak biasa. :)

Rabu, 23 Oktober 2013

"Me Time"

Istilah me time baru saya kenal sejak saya menjadi seorang ibu. Sebelumnya ketika menonton acara The Nanny versi USA ataupun UK, saya sedikit sinikal. Sebutuh itukah seorang ibu terhadap me time ini? Hehehe. Ternyata me time bisa berpengaruh dalam hidup seorang FTM (full time mom) seperti saya.

Dengan menjadi Ibu (dalam hal ini sebagai FTM), banyak hal yang berubah secara otomatis tanpa wanti-wanti terlebih dahulu. Bener loh...Menurut Sarah Napthali dalam bukunya Buddhisme untuk Para Ibu, " Para ibu dari anak-anak yang masih kecil menjalani kehidupannya seorang diri. Dalam kehidupan kita sebelum menjadi seorang ibu, baik ketika bekerja atau menuntut ilmu, kita mungkin memiliki suatu komunitas orang di sekitar kita, termasuk juga teman-teman di sekeliling kita yang selalu siap untuk diajak berbagi kesedihan atau bercanda mengenai kesulitan kita. Tetapi saat telah menjadi ibu, teman lama dan keluarga kita bisa jadi tidak memahami kita, mungkin karena belum memiliki anak atau mungkin tantangan yang dihadapi berbeda." 

Ketika berkumpul bersama sahabat lama saya yang juga memiliki anak (saya membawa kedua anak saya dan teman saya juga membawa anaknya) , bisa disimpulkan bahwa tidak ada waktu bagi kami untuk bisa benar-benar berbicara dan benar-benar mendengar. Ada saja gangguan dari anak-anak kami, anak saya yang manjat-manjat, si bungsu yang minta gendong, atau anak teman saya yang sedang excited menjatuhkan barang. Haha. Padahal dulu ketika sama-sama belum memiliki anak, segala bentuk curcol bisa diobrolin dengan santai or bahkan bisa hang out bareng. Peran Ibu memaksa para wanita untuk memasuki gaya hidup yang baru. :p

Jika mengingat kembali masa lalu saya dan peran Mama dalam hidup saya, kusadari bahwa mamaku seorang yang luar biasa. Dengan memiliki 3 anak yang jaraknya cukup berdekatan, seingatku Mama tidak pernah menuntut me time. Saat kami masih kecil Papa sering bekerja keluar kota, alhasil Mama yang mengurus kami semua. Rasanya tidak pernah Mama mendapat hari bebas untuk ke salon atau shopping sendiri atau bersama teman-temannya saja. Kami tiga bersaudara selalu bergelayutan di tangannya, tanpa asisten rumah tangga. Masih teringat dalam benakku, saat berbelanja kami bertiga diboyong serta walaupun naik kendaraan umum. Mama memangku adik kedua dan saya memangku adik bungsu. Saat di toko pun saya masih ingat saya dan adik-adik sering menggerutu karena capek berjalan dan berdiri.

Sejak kami mulai bersekolah, Mama yang bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan dan segala sesuatunya. Pada malam haripun, mungkin Mama yang tidur paling larut setelah yakin anak-anaknya tertidur lelap atau mungkin Papa?hehehe. Saya yakin itu berlangsung hingga Adik terkecil saya lulus SMA. Saat ini anak sulung saya juga mulai bersekolah. Seiring hari saya memcoba mempersiapkan fisik dan batin saya untuk bisa seperti Mama. Mama tidak pernah mengeluh pada kami. Kepada Papa? ga tau jg yah...Mama sedang me time? saya tidak ingat bahwa hal itu pernah ada. Seakan-akan totalitas hidupnya adalah untuk keluarga.

Saya masih jauhhhhhhh dibawah Mama. Seringkali di saat-saat drop dimana anak-anak mulai cranky, emosi memuncak didalam hati, rasa lelah yang luar biasa (mungkin saya terlalu lebay), rasa jenuh karena berkutat pada hal yang sama membuat diri saya menjadi buruk dengan sendirinya. Suami menjadi tempat curahan hati dan membiarkan saya menikmati me time. Banyak hal yang bisa kita lakukan kalau 'me time"; ke salon memanjakan diri, shopping, nonton film, atau hang out dengan teman. Berhasilkah pada diriku? Untuk sesaat iya, tapi bukan untuk jangka panjang. Yang ada malah menghabiskan uang yang tidak sedikit karena saya termasuk impulse buyer dan impulse eater. Haha. Me time seperti itu menurut saya hanyalah tombol refresh untuk diri saya, selanjutnya? Hidup mungkin akan berputar dalam lingkaran yang sama lagi.

Life must go on.

Saat ini "Me time" yang sering saya lakukan adalah membaca, mencoba mengamati pikiran dan baru-baru ini mencoba menyalurkannya lewat blog ini. Menulis seperti ini menjadi saat-saat me time yang saya nikmati. Ketika anak-anak tertidur, yang berjalan hanyalah pemikiran saya dan jemari diatas tombol keyboard. 

Menjalankan peran seorang ibu memang gampang-gampang susah. Ada yang bilang "Being a Mother is a endless and unpaid job". Bisa jadi benar. Saya pernah membaca quote: "Once you became a mother, you'll always be a mother." Keterikatan emosi kita terhadap anak kita mungkin yang membuat kita susah untuk lepas dari peran ini. (Cari gara-gara sendiri donk?) hahaha. I'd made my self clear. Menjadi seorang ibu adalah berkah, mengajarkan saya akan arti cinta tak bersyarat. Walau hari-hari yang dilalui tak selalu mulus, tapi bisa menjadi indah. Tergantung bagaimana saya mau menanggapinya. Secara positif atau negatif. Bagaimana dengan moms yang lain? :)
















Sabtu, 19 Oktober 2013

"Memantaskan Diri"

Manusia melihat dengan mata, mendengar dengan telinga. Tingkah laku dan sifat manusia dapat dianalisa dengan kedua indra tersebut. Kata para ahli, pria suka dimanja lewat mata dan wanita suka dimanja lewat telinga. Benarkah demikian? Kalau saya sih suka dimanja lewat mata dan telinga. :)

Baru-baru ini topik ini 'panas' dibicarakan dalam group komunitas yang saya ikuti. Bagaimana mencari jodoh? Bagaimana menjaga keutuhan rumah tangga?

-----------------------------------------------
Untuk urusan mencari jodoh, teman-teman pun mulai sharing. Kalo boleh saya rangkum, AAC, Appearance, Attitude and Chemistry.

1. Appearance : Penampilan nomor 1, intinya mata lawan jenis yang harus dibuat tergoda untuk melirik apabila ingin mencari pasangan. Wajah dan tubuh terawat, pilihan gaya berpakaian yang menarik menjadi faktor penting.

2. Attitude : Tingkah laku, cara berjalan, berbicara, manners. Hal ini biasanya mencerminkan latar belakang seseorang. Kata teman saya, tidak perduli seorang wanita secantik apa, apabila attitude-nya ngasal yah illfeel liatnya...hehehe....Masuk akal. Coba bayangkan -- cewek cantik ngupil di depan umum dengan serunya or cowo ganteng liat tikus langsung terbirit-birit naik ke atas kursi...kayanya ga banget dehhh...

3. Chemistry : ini urusan hati -- susah dijelaskan...seperti zsa-zsa zsu-- dari Sex and the City. That kind of feeling.
(http://www.urbandictionary.com/define.php?term=zsa%20zsa%20zsu)

Sebenarnya 3 hal ini bukan hal yang mutlak sih...Kadang kita menemukan pasangan-pasangan yang membuat kita amazed yang membuat kita bertanya dalam hati "Kog bisa yah si A dengan si B, si beauty dengan si beast? Bahkan terkadang udah bikin judgement sendiri. Kurang bijak yah sepertinya kalo mengingat pribahasa Don't jugde the book by its cover. Bagi saya, manusia itu makhluk sosial yang misterius. ;D

---------------------------------------------

Pernikahan bahkan lebih kompleks. Pernah mendengar, "menikah itu gampang tapi bagaimana menjalankan pernikahan agar selalu utuh, butuh perjuangan"?. Kesamaan visi dalam membina keluarga, segala yang berhubungan dengan lahir dan batin, dan berbagai faktor lainnya mempengaruhi. Saya coba sharing yang teman saya katakan; memantaskan diri.

Kata teman saya, appearance itu tetap penting. Ada kebiasaan setelah berumah tangga- kita baik pria dan wanita cenderung ngasal berpenampilan di depan pasangan, contohnya: berpakaian seenaknya. Padahal menurutnya, mata kita ingin dimanjakan dengan yang indah. Benar juga. Baru-baru ini saya sarapan pagi di sebuah rumah makan, sepasang suami istri datang (kelihatannya sih sama-sama belum mandi). Saya perhatikan sang suami memakai baju yang cukup lusuh, di rambut sang istri ada trend masa kini - koyo rambut (penahan poni sebelumnya hanya digunakan pada saat make-up sekarang sudah beragam jenisnya) berbentuk kotak berwarna kontras dengan rambutnya. Bagi saya, koyo rambut tersebut berada di tempat yang benar (kepalanya) tetapi di waktu yang salah (di tempat umum). ;p

Saya sendiri juga pernah memakai kaos rumahan ke mall dan memang bukan hal yang pantas setelah saya ingat-ingat. Kalau ke pasar perumahan lebih seru lagi, banyak manusia yang bisa membuat hati kita tergelitik untuk bikin judgement. Ada yang dandanan dan sasakan 5 centi, ada yang pake daster. Satu hal yang bisa saya ambil contoh, sekarang saya giat minum jamu tradisional yang dijual di pasar itu, sebenarnya banyak mbo jamu keliling yang melewati rumah, tapi tetep saya bela-belain ke penjual jamu ini. Yang membuat saya merasa nyaman membeli darinya karena penampilannya yang bersih dan dengan itu saya menjadi yakin jamunya bersih dan higienis. Sekali lihat langsung nampol... Ternyata simple yah dari mata turun ke hati, duit keluar lebih mahal pun rela...haha...

Temanku yang lain mengatakan, "memantaskan diri" mencegah orang lain berpikir buruk tentang kita. "Memantaskan diri" juga merupakan wujud penghargaan kepada diri kita sendiri dan orang sekitar kita. "Memantaskan diri" bisa meng-upgrade diri kita lho...Demikianlah adanya.

Nah, mari bersama-sama kita "memantaskan diri". :)





ps. thanks to temen-temen Kompor untuk sharingnya.

Kamis, 17 Oktober 2013

Rasa Syukur

Sharing sedikit mengenai rasa syukur.

Kehamilan adalah hal yang menakjubkan, melelahkan sekaligus mendebarkan. Rasa senang ketika sang janin bergerak di dalam perut, melelahkan bahwa bobot tubuh bertambah dan mendebarkan ketika kita bertanya-tanya seperti apa rupanya kelak.


Kehamilan kedua sempat tanpa sengaja memecahkan barang, dan menggeser perabot. Hal ini biasanya disebut pamali. Dalam hati udah amit-amit dan berdoa semoga bayi baik-baik saja tanpa kekurangan atau cacat apapun.

Akhirnya hari persalinan pun tiba, dengan operasi Caesar, ketika sang bayi telah dibersihkan dan diukur, dokter anak memperlihatkan sang bayi sekilas kepada saya dalam bungkusan selimut, semua tampak normal, saya juga sempat menanyakan keadaan bayi kepada dokter, "Normal semua kan, Dok?" Dokter mengiyakan.

Menunggu dipindahkan ke ruang rawat inap, saya sempat bertemu suami. Kata suami ada daging lebih di pipi bayi kami, cukup mengganggu katanya. Dalam hati saya sudah was-was.
Ketika sudah dipindahkan ke kamar rawat, sang bayi akhirnya didorong masuk ke dalam ruangan. Kami semua bersuka cita kehadiran anggota keluarga baru kami. Kami menamakannya Audrey Mikaela Casterine. Saya melihat wajahnya. Ada 2 daging lebih seukuran kacang hijau. Secara estetika memang cukup mengganggu karena adanya di wajah mungil Audrey. Dua hari di rumah sakit selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang sudah kulakukan ketika hamil sehingga bisa begini, dilahirkan dengan 'kelebihan". Ada rasa sedih dan sesal dalam hati.


Dua hari kemudian di ruang laktasi, saya melihat seorang suster memberikan susu kepada bayi dan ditemani ibu si bayi. Pemberian susu dibantu dengan selang. Dalam pikiran saya mungkin si bayi tidak bisa menyusu dengan botol. Ketika si bayi selesai diberi susu dan digendong untuk disendawakan, saya melihat sekilas bayi tersebut yang tangannya dipakai tag berwarna pink (yang menandakan anak perempuan). Ya Tuhan....bibir atas anak tersebut tidak ada. Aku terdiam sesaat. Ibunya tetap tabah dan penuh kasih sayang menyayangi anaknya.Mungkin sang ibu merasakan kehadiran saya dan mencoba mengobrol dengan saya, " Iya sumbing, kata dokter baru bisa operasi setelah 6 bulan". Berusaha tampak biasa saja saya juga bilang "Iya, anak saya juga baru habis operasi, ada daging tumbuh" (Suami dan saya setelah berkonsultasi dengan dokter bedah memutuskan untuk membedah daging lebih tersebut). Ngobrol-ngobrol sekilas akhirnya ibu beserta bayinya kembali ke ruang rawatnya.Dalam keheningan sambil terus menyusui saya menatap Audrey, berdoa dan bersyukur dalam hati. 


Saat ini Audrey memasuki usia 4 bulan, tumbuh sehat, ceria dan murah senyum. 



Bekas operasi walau masih ada, tapi tidak terlihat begitu jelas. Mungkin kelak ketika dia besar aku akan sering mengulang kisah ini, untuk mengingatkan untuk selalu bersyukur. :)

Be grateful.